Kamis, 24 November 2011

Resensi buku novel Totto-Chan



Judul buku : Totto-chan,Gadis Cilik di Jendela
Penulis ; Tetsuko Kuroyanagi 
Penerbit : GRAMEDIA
Cetakan 1 : 2008
Tebal : 272  halaman

Buku Totto-chan Gadis Cilik di Jendela ini memang bukan terbilang buku baru.Dalam buku ini menceritakan ada seorang anak kecil mempunyai rasa keingntahuan yang sangat tinggi.Rasa penasaran menggugah pikiran mereka.Apapun yang mereka lihat dan ketahui selalu membuat mereka penasaran.Mereka akan mencari hal iu sampai mereka menemukan jawabannya.Mereka selalu menanyakan kepada seseorang yang mereka temui yang menurut mereka tahu akan tentang hal itu.Mungkin sampai orang yang mereka tanyai bosan akan pertanyaan-pertanyaan  mereka.Itulah secuplikan cerita yang menyinggung dalam novel ini.
Buku ini bercerita tentang Totto-chan, gadis cilik yang harus dikeluarkan dari sekolahnya di usia 7 tahun karena keingintahuannya yang besar tentang sesuatu, membuat  Totto-chan kecil berbeda dan dipandang aneh jika dibandingkan dengan teman-temannya. Mulai dari memanggil pengamen jalanan untuk memainkan musiknya di dalam kelas, sampai berbicara dengan burung Walet yang bertengger di pohon samping kelasnya. Sampai-sampai Totto-chan dikeluarkan dari sekolahnya Karena dianggap kurang waras.Kemudian, oleh ibunya ia dimasukkan ke sekolah Tomoe Gakuen yang didirikan oleh Sosaku Kobayashi.
Sekolah yang berlambang dua simbol kuno berbentuk koma yang berwarna hitam dan putih ini memang lain dari sekolah yang lain. Kegiatan belajar mengajar berlangsung di dalam gerbong kereta api yang sudah tidak dipakai lagi.Jumlah siswanya hanya sekitar lima puluh orang. Sekolah ini juga tidak mengharuskan siswanya memakai seragam yang rapi dan bersih, malah sebaliknya sekolah ini menganjurkan untuk memakai pakaian yang sudah usang untuk pergi ke sekolah.Bersekolah di sana adalah hal yang menyenangkan bagi Totto-chan dan kawan-kawannya. Jika di sekolah lain setiap anak diberi jatah duduk di satu kursi tertentu,tapi di Tomoe, mereka bebas memilih di mana mereka akan duduk.
Sekolah ini memberikan kebebasan kepada siswanya untuk melakukan apa saja yang mereka inginkan. Setiap siswa bebas memilih pelajaran apa yang ingin dipelajarinya lebih dulu pada hari itu. Ada yang memilih membuat puisi,melukis dan ada  juga yang ingin melakukan eksperimen fisika. Metode ini memudahkan guru untuk mengetahui bidang apa yang diminati muridnya, termasuk mengetahui karakter siswa.
Belajar di Tomoe benar-benar  menarik dan menyenangkan. Untuk makan siang saja harus ada ”sesuatu dari laut dan sesuatu dari pegunungan” agar anak-anak makan dengan gizi yang seimbang. Selain itu,jika sebelum makan orang-orang Jepang selalu mengucapkan kata ”Ittadakimasu” yang artinya selamat makan, Dan juga di Tomoe sebelum makan mereka menyanyikan lagu ”Yuk kunyah-kunyah baik-baik semua makananmu” baru setelah itu mereka mengucapkan ”Ittadakimasu”.Setelah makan siang, biasanya mereka berjalan-jalan. Kemudian, ketika mereka melewati kebun bunga, guru akan menceritakan kepada mereka bagaimana bunga-bunga sawi bisa mekar dengan cantik.
Tomoe mengajarkan banyak hal kepada anak-anak. Dengan berenang bersama tanpa busana, kepala sekolah ingin mereka paham bahwa semua tubuh itu indah. Jika mereka yang bertubuh cacat ikut berenang, maka rasa malu dengan  kekurangannya akan hilang sedikit demi sedikit.
Selain itu, Kepala Sekolah juga memberikan motivasi kepada anak yang tidak mampu bercerita tentang suatu hal sampai akhirnya anak itu mampu  bercerita. Beliau juga mampu meyakinkan anak-anak bahwa mereka adalah anak yang baik.Beliau selalu mengucapkan ”Kau anak yang benar-benar baik, kau tahu kan?”.
Kepala Sekolah Kobayashi menghargai sesuatu yang bersifat alamiah  dan ingin karakter anak-anak berkembang secara alami. Beliau sangat yakin bahwa seorang anak dilahirkan dengan watak baik. Oleh sebab itu, Kepala Sekolah Kobayashi berusaha menemukan hal itu dan mengembangkannya agar anak-anak dapat tumbuh dengan kepribadian yang khas.
Kehidupan sehari-hari Tomoe juga mengajarkan bersikap sopan kepada orang lain dan tidak boleh melakukan hal yang membuat orang lain kesal.Bahkan, membuang sampah di tempat yang benar pun dipelajari dari Tomoe.
Anak-anak di sekolah Tomoe menggunakan bahasa dan pemikiran khas anak-anak.Sampai-sampai ketika kepala sekolah mengatakan bahwa akan datang gerbong kereta baru untuk kelas mereka, mereka berpikir akan dibuat rel sehingga gerbong itu sampai di sekolah mereka. Padahal sebenarnya gerbong itu diangkut oleh trailer yang ditarik oleh traktor. Ketika mereka belajar bagaimana bunga sawi mekar, mereka mengatakan, ”Ternyata benang sari tidak mirip benang ya?”.
 Setelah menjelajahi isi dari novel tersebut,yang mengisahkan keingintahuan seorang anak dalam hal segala bidang.Buku ini dapat menjadi inspirasi dan novel ini juga sangat cocok di baca bagi siapa saja yang membacanya dari generasi muda sampai ke generasi tua.Dan buku ini mudah di cerna karena kata-katanya mudah untuk di mengerti.




T-ARA - Cry Cry

LIKE IT!